Pages

Yakinlah dengan mimpi-mimpi kita, Percayalah dengan apa yang kita yakini.

Ketika orang-orang di sekitar kita mulai meragukan kemampuan kita, maka satu-satu nya cara untuk tetap bertahan adalah, kita harus yakin dengan diri kita. Orang lain tidak akan percaya dengan kita selama kita sendiri meragukan diri kita sendiri.

Ibu Sri Mulyani (Managing Director of World Bank) : Kiprah kita tak boleh berhenti sebatas wilayah.

Mengingat diri kita adalah manusia dengan kapasitas berfikir yang lebih sempurna, kita memiliki tanggung jawab peran untuk melakukan hal terbaik, tidak hanya di tataran lingkungan sendiri (jago kandang ) melainkan juga berani di luar kandang.

Bapak Roy Suryo (Menpora RI) : Energi pemuda itu seperti tidak pernah ada habisnya.

Menjadi Pemuda adalah sebuah takdir sekaligus pilihan, yang meyakini pilihan adalah ketika kita mau menggunakan energi pemuda itu untuk memberikan manfaat kepada linkungan sekitarnya. Hidup Pemuda Indonesia.

Anies Baswedan Menteri Pendidikan: Pendidikan adalah eskalator peradaban.

Memilih untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya demi terciptanya peradaban yang lebih baik bukanlah impian yang salah.

Bapak Dahlan Iskan (Menteri BUMN RI) : Selalu lakukan hal dengan kesungguhan dan ketekunan.

Jika kita merasa pantas memiliki mimpi, maka yakinilah kalau kita pantas meraihny.

Bapak Ruhut Sitompul : Dialog kebersamaan itu tercipta.

Hanya menyapa dan memanggil nama, semuanya terasa akrab, meski terbiasa dibatasi layar kaca.

Saya percaya senyum telah merekat kuat.

Kebersamaan akan selalu menciptakan kesempatan untuk tersenyum lebih hangat, tertawa lebih renyah dan kedekatan persahabatan yang terikat keuat.

Bapak Renald Kasali Tokoh Perubahan Nasional.

Kita jangan kalah seperti bunglon,;Jangan Takut Melakukan Perubahan!..” “Change is the only evidence of life”.

Ahmad Fuadi (Penulis Novel Best Seller Trilogi Negeri 5 Menara): Man Jadda Wa jadda

Jika mau mendapatkan apa yang kita inginkan, pertama adalah usaha, kedua usaha, ketiga juga usaha selanjutnya berdoa dan tawakal kepada tuhan.

Fourm Indonesia Muda (FIM): Kita akan selalu memilih.

Keputusan besar diambil ketika kita tahu bahwa kita pantas tumbuh menjadi pribadi yang mau terus tumbuh dan belajar berjiwa besar.

PPAN : Terpilih untuk memilih

Dalam hidup kita selalu mendapatkan kesempatan untuk memilih, pun juga terpilih untuk memilih.

Keberagaman membuat kita semakin kaya

Keberadaan diri kita di muka bumi ini adalah bagian kecil dari sebuah kekuatan besar yang ada di dunia, bisa benar - benar terwujud jika kita mampu menyatukan setiap bagian-bagian kecil tersebut menjadi satu.

Pemuda harus terus bergerak untuk maju.

Menjadi Pemuda adalah sebuah takdir sekaligus pilihan, yang meyakini pilihan adalah ketika kita mau menggunakan energi pemuda itu untuk memberikan manfaat kepada linkungan sekitarnya.

Menggali nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Sebagai pemuda yang mencintai tanah airnya, menggalih pemahaman tentang budaya adalah harga mati

GALA DINNER Bersama Jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Kepercayaan, kepantasan akan menjadi hadiah bagi mereka yang mengusahakannya.

Membuka senyum adalah anugrah terindah.

Senyum itu pertanda bahwa ada kehangatan dalam bentuk kebahagiaan yang ditularkan.

Iwan Sunito (Miliarder Indonesia di Autralia) : Kata beliau "Ndi, kamu pasti bisa lebih sukses ".

Energi yang di tularkan orang besar memiliki kekuatan besar yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang.

On Air : Sekali di udara tetap di udara".

Demikan pesan-pesan kebaikan telah terhaturkan, bukan untuk menggurui hanya saling menasehati

Hasrat untuk peduli itu adalah panggilan jiwa.

Menjadi Pemuda adalah sebuah takdir sekaligus pilihan, yang meyakini pilihan adalah ketika kita mau menggunakan energi pemuda itu untuk memberikan manfaat kepada linkungan sekitarnya. Hidup Pemuda Indonesia.

Teladan diri adalah ketika kita mencoba berpenampilan terbaik.

Respect atau menghormati adalah bukan sekedar kita memberi apresiasi kepada orang lain, namun bagaimana kita menghormati diri sendiri terlebih dahulu.

Kekuatan terbesar itu adalah ketika kita mau bersinergi.

Potensi besar itu akan menjadi lebih besar lagi apabila kita mau bersinergi satu sama lain. Tiada hal remeh jika kita mau bersinergi.

Lebarkan sayap silaturahmi, temukan hikmah yang terserak

Ciptakan nilai tambah dimanapun kita berada. Bangunlah jaringan pertemanan sebanyak mungkin.

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono : Untuk sampai bertemu denganya haruslah memantaskan diri.

Memantaskan diri adalah sebuah persiapan untuk menghadapi kenyataan dari meraih mimpi. Percayalah, persiapan membuat segala hal terasa lebih percaya diri untuk di hadapi.

Satu langkah menuju perbaikan adalah kemajuan.

Lingkungan positif memberi peranan besar dalam pembentukan siapa diri kita. Menjadi baik dan buruk di tentukan oleh lingkungan sekitar kita. Berani maju?? Carilah lingkungan positif.

Kebersamaan selalu memperkaya segala hal.

Hanya orang-orang dekat yang menganggap diri kita adalah bagian hidupnya--- yang mau merasakan susah dan senang bersama.

Kekeluargaan itu penting karena disitulah cinta bersemayam dan berkembang.

Saling mengisi, saling menggenapi adalah alasan adanya kebersamaan. Disitulah kita seharusnya tumbuh bersama.

Sebuah makna TEAM (Together Everyone Achieve More)

Dua tangan lebih baik dari satu tangan, tiga tangan lebih baik dari 2 tangan, semakin kita mampu berkolaborasi dalam sebuah team. Memberikan kita kesempatan berkembang lebih cepat.

Kemenangan itu bukan milik aku atau kamu tetapi milik kita.

Keberhasilan itu di ukur bukan dari hasil yang di raih saja melainkan dari pelajaran- pelajaran berharga yang di peroleh selama proses percapaianya.

Bapak Elmir Amin pendiri Forum Indonesia Muda (FIM) : Habiskan Jatah Gagalmu

Kegagalan ada batasnya, begitulah kata beliau. Jika ingin tau bagaiamana menentukan masa depan suatu bangsa bisa di lihat dari bagaimana pemudanya sekarang.

Memiliki cita-cita mulia salah satunya adalah menjadi bermanfaat.

Pertanyaan yang susah di jawab oleh diri kita adalah “Apa yang telah kita berikan kepada sesama?”

Yakinlah dengan mimpi-mimpi kita, Percayalah dengan apa yang kita yakini.

Ketika orang-orang di sekitar kita mulai meragukan kemampuan kita, maka satu-satu nya cara untuk tetap bertahan adalah, kita harus yakin dengan diri kita. Orang lain tidak akan percaya dengan kita selama kita sendiri meragukan diri kita sendiri.

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

Nasehat dan cinta

Dicatat pada : Selasa, 25 Maret 2014 Pukul 23:58 WIB di Purwokerto

"Sekarang teruslah semangat meraih mimpi yang telah kamu rancang, mewujudkanya  satu persatu, getarkan dunia dengan sejarahmu sendiri. Karena kamu bukan milik dirimu sendiri melainkan juga milik mereka yang membutuhkan mu. "


Baca sampai selesai dan temukan nasehat di dalamnya.... 

Jika hati sedang berada pada kegundahan memikirkan sesosok dambaan jiwa (lawan jenis), bisa jadi diri ini mulai menemukan kecup sebuah senandung perasaan yang tertambat. Sang Pujangga menyebutnya kata yang terangkai dari lima huruf sakral itu ;  C-I-N-T-A, sebentuk perasaan yang membuat hati manusia merasa menggebu-gebu saat merasakan kebersamaan dengan yang di damba oleh sang hati dalam sebuah halusinasi yang membayang indah ketika terlelap dalam tidur. Mimpi-mimpi indah, sketsa penuh mukjizat yang membayang begitu asing namun indah tiada terperi.

Menurutku, nasehat terbaik ialah segera masuk ke kamar dan temukan cermin di almari, dan lihatlah ! bukan untuk berdandan namun melihat dengan seksama akan diri kita, melihat diri kita sendiri. Dan jawablah dalam hati seberapa pantaskah kita memangku gejolak perasaan ini di dalam hati. Kadang aku berfikir takut tidak mampu. Namun kata mereka yang telah mengembara di padang asmara hal seperti itu adalah sebuah ke alamian, sebuah hakikat dan ke- normalan. “itu wajar, Ndi” kata mereka kepada ku.

Karena sejatinya cinta itu menuntut jiwa untuk tumbuh lebih baik. Cinta itu menunutut hati untuk semakin memperhatikan kitauntuk mensucikan jiwa, peleburanya harus senantiasa di upayakan bersama dengan iman dan taqwa biar ia tejaga dan terpelihara. Karena di saat ia datang melanda. arusnya begitu deras, begitu kencang. Jika tak kuat membendung nya yang ada hanyalah rasa memelas, rasa tak pantas.

Namun jika mau berusaha menyiasatinya, maka ia bisa menjadi hal yang memacu diri, maka cinta akan mampu membangkitkan semua gairah semangat kita untuk selalu tampil lebih baik, selalu ingin tumbuh dalam naungan cinta yang di ridhoinya. Percayalah saatnya sekarang kau memantaskan diri.

Percayalah  meski orang yang kau tambatkan perasaanmu tak tau tentang kamu dan yang kamu alami tetapi yakinlah energy itu akan memancar sehingga ia akan ikut merasakannya sekarang atau nanti. Sekarang mungkin kau dan dengannya berpisah dalam haluan jarak dan waktu yang memisahkan. Namun yakinlah itu yang akan memupuk perasaanmu supaya tumbuhkan akar ke dasar cinta-Nya, mencengkram dengan kuat. Menguatkanmu saat ini untuk terus berkiprah meraih mimpi.

Jika sudah seperti ini, maka yang aku butuhkan adalah nasihat seorang ibu supaya membimbing aku dalam kebingungan ini. Namun di mana ibuku? Ia sudah berada di sisi terciinta-Nya,  Allah pun dengan sangat baik mempertemukan aku pada sebuah bacaan yang  berisi nasehat ibu. Yaitu nasihat dari seorang ibu kepada anaknya. Khususnya untuk anak laki-lakinya tentang perempuan.

Tulisan itu ditulis oleh Ellen Maringka pada kompasiana muda
Begini tulisannya :

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more… Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh. 
Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that. Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu  :Contohilah ayahmu.


Soal cewek, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi. 

Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini… 

Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani. 

Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan. Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. 

Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki… Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life. 

Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah.Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya. Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…

- Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.
 Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik…. 

Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…

 - Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya. Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?. Perlu waktu untuk menilai ini semua. 

Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buru.  Take your time… give time enough time. 

- Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.

 Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi…. Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian. 

- Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary… Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair… 

Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan. - Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you. Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  

Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna. Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.
For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)






Ketika aku membaca tulisan di atas,  aku seperti sedang di nasihati langsung oleh sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya. Mungkin itulah yang di sebut dengan tulisan yang di tulis dengan bahasa penuturan yang tulus, hingga ketika di baca terasa begitu merembas ke dalam jiwa.

(Tanpa menganggp tulisan diatas masih kurang, aku hanya menyampaikan lagi yang tersirat bahwa yang lebih utama wanita selain hal yang dinasehatkan oleh seorang ibu kepada kita adalah nikahilah wanita/ calon istri / istri yang agamanya baik (baca : Sholekhah) karena seperti kita tahu bahwa melalui wanita yang solekhah banyak hal-hal besar terselamatkan.  Tidak berarti mengabaikan peran ayah (laki-laki) yang juga harus matang dalam segala hal dan baik agamanya karena sangat penting. Namun peran wanita/ calon istri/ istri yang beragama baik akan berdampak  baik pada masa depan. Misal ibu yang  beragama baik (sholehkah), meski pun pihak laki-laki nya tidak sholekh kecenderungan anak akan membawa pengaruh ibunya. Anak dari ibu penghafal Quran yang juga sama-sama pandai seperti ibunya, meskipun Suaminya waktu itu tidak hafal Quran. Anak nabi Ibrahim yang semuanya sholeh karena lahir dari ibu yang sholeh. Anak istri firaun, mampu mendidik Musa menjadi pemimpin yang sholeh. Ada juga karena ibunya yang tidak sholekhah anak Nabi Luth yang ikut durhaka bersama ibunya, anak nabi Nuh yang juga ikut  durhaka bersama ibunya.)

Dari tulisan di atas perlahan aku mulai faham , bahwa ada sebingkis nasihat untuk diriku , teruslah berkiprah dalam jejak emas meraih mimpi. Tingkatkan potensi jika sudah  merasa pantas datanglah kepada yang hatimu tertambat kepadanya, dan pinanglah untuk penanaman cinta dunia dan akhirat. Supaya lelahmu, prestasimu akan menjadi kado kebahagiaan untuknya selama masa-masa menahan sekarung rindu. Supaya prestasimu bisa menjadi kebanggaan untuk anak-anakmu dan orang yang kamu cintai lainya.

Itulah nasihat yang datangnya dari perasan tulus ibu, aku merenungi setiap alur bahasa yang di tulisnya. 

Sekarang teruslah bersemangat meraih mimpi yang telah kamu rancang, mewujudkanya  satu persatu, getarkan dunia dengan sejarahmu sendiri. Karena kamu bukan milik dirimu sendiri melainkan juga milik mereka yang membutuhkan mu.


Andi Yanto
Sang Pembelajar
di tulis ulang dari diary tercinta
"Satu Hari Minimal menulis satu judul tulisan di tahun 2014" 

<photo id="1" />


Rinduku (Pada mama)

Diary, dicatat pada Jum`at 28 Februari 2014 pukul 01: 31 WIB di Wisma Al-Banna Purwokerto

Semoga tulisan ini Mampu mengobati rasa rinduku pada mendiang tercinta, Almarhum ibu. (I love you, mom)

Entah kenapa, Aku bingung harus memulai dari mana tulisanku ini. Semua terasa begitu melankolis dan absurd, namun yang jelas saat ini aku semakin merasakan rindu yang sungguh berat teramat sangat aku tanggung yaitu tentang kerinduan kasih sayang dari sosok seorang Ibu. Entahlah, Kenapa bisa seperti ini. Lagi-lagi aku kalah. Aku tak boleh menyerah. Aku pasti bisa. Namun ingatanku seperti buncah tak tau kemana rimbanya. Jika mengungkit lembaran yang pernah terlewati. Jika meniti dalam pematang fikiranku. Aku masih tampak kalah ketika berurusan dalam hal ini. Dalam hal menahan kerinduan di saat-saat aku merasa sepi. Ketika dera kerinduan semakin kuat merajamku.

Namun aku tak bisa berbuat apa-apa ketika aku lemas mengingat hangat kasih sayangmu, ma. Hanya sekedar untuk mengobati. Itu saja, tidak lebih tidak kurang. Bahkan sampai detik ini aku masih meraba-raba dalam ingatanku tentang seperti apakah hangatnya pelukan seorang ibu ketika menimang dan mendekapku dalam hangat cintanya. Tentang caranya memperhatikan aku ketika aku menangis, ketika aku menyusu dan sebagainya. Aku sudah lupa seperti apa kasih sayang seorang ibu itu. Ingatan itu membekas terakhir ketika usiaku 1 tahun 4 bulan. Ketika aku dan ibuku berpisah di tahun 1992. Setelah itu, ingatan itu seumpama debu diatas batu yang harus menerima terhapus ketika tersapu hujan lebat.

Tak munafik, mungkin akan sama seperti kebanyakan orang yang sedang merasakan kerinduan. Maha berat rindu ini mengungkung di pundak. Hal yang aku ingin rasakan sama sebuah kehangatan. Kehangatan yang seperti sahabat-sahabatku rasakan ketika ia berjumpa dengan ibunya. Semoga aku tak berdosa. Aku ingin seperti sahabatku. Ketika ibunya dengan sangat hangat menyambutnya ketika pulang ke rumah. Ibunya membukakan pintu dan menyambutnya dengan sangat bahagia s kemudian dengan sangat hangat membelai rambut anaknya yang tidak lain adalah sahabatku itu. Kemudian memeluknya. Sungguh ketika aku melihat itu hatiku bergetar, bibir bergeming menyebut asma-Mu Ya Allah. Sudut mataku pun sembab haru. Betapa itu merupakan kehangatan yang ingin aku rasakan. Sebuah kehangatan yang mungkin bisa menggenapi kekosongan ini. Aku merindukan ibuku. Kangen penuh haru. Batinku gerimis. Maafkan hamba-mu yang lemah ini ya Allah. Hamba begitu rentan. Jika hamba di izinkan membela diri, mungkin inilah ke-alami-an dari perasaan setiap manusia. Sekali lagi, maafkan hamba-Mu ini ya Allah.

Seperti beruntun, situasi lain juga menempatkanku pada keadaan dimana kedua mataku menyaksikan gambaran kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Selalu aku lihat pemandangan seperti itu. Bukan cuma 1, 2, 3 kali tatapi sudah sering berkali-kali. Aku membayangkan seandainya ibuku masih ada apakah aku akan megalami hal yang sama?. Aku ikhlas menerima kenyataan ini Ya Allah, namun aku masih terus mencari alasan kenapa engkau selalu memperlihatkan pemandangan seperti itu di depan mataku. Alasan tentang mengapa aku harus meyaksikan manisnya romantisme ibu dan anak dan apa pesan dibalik semua ini.? Ada gerangan apa disana? Aku bertanya-tanya.

Imbas yang tak pernah aku minta. Peranan pengalaman ikut mewarnani perjalanan hidup ini. Dulu aku adalah orang yang paling anti  menangis ketika berada di dalam ruang yang sedang berlangsung seminar-seminar, training, workshop yang disitu seperti kebanyakan akan ada sesi perenungan tentang kasih sayang ibu. Ketika itu berlangsung, maka aku diam saja. Tunduk dalam perasaan kosong, bukan merenungi apa yang dikatakan orang sang pembicara. Sementara peserta yang lain disampingku telah menangis lengkap dengan suaranya yang tersedu-sedu karena tersentuh oleh materi yang di bawakan oleh pembicara trainer tersebut karena tema-nya adalah tentang ibu. Aku tak tersentuh. Perbendaharaanku masihlah belum kurang tentang definisi kasih sayang ibu seperti yang pembicara trainer itu sampaikan. Perbendaharaanku tentang kasih sayang seorang ibu sangatlah sedikit, Namun seiring berjalanya waktu hatiku mulai luluh, aku mulai mudah tersentuh pembicaraan tentang ibu. Aku seperti mulai sadar bahwa aku mulai merindukan kehadiran sosok ibu untuk menguatkan langkahku dalam mengarungi bahtera hidup ini. Menyibak, memetakan langkah. Mengarungi perjalanan penuh kemaha hebatan perjuangan.

Aku tak mau terlihat lemah. Aku tak mau terlihat payah dengan kekosongan hati ini. Aku yakin dengan skenario besar-Mu bahwa segalanya berjalan diatas biduk rencana agung-Mu yang begitu indah. Hanya saja aku tak munafik, ketika aku terjerembab dalam sepi yang bertubi-tubi mengahantamku, aku merasakan hampa. Di saat itulah aku merasakan rindu pada ibuku, air mata pun jatuh menitik. Di kala itu aku merasa seperti berada dalam kubangan sepi yang menenggelamkan diri, larut dan hanyut. Aku merasa berada di atas setangkup rindu yang hampir menenggelamkanku dalam kesedihan. Aku butuh nasehat seorang ibu, sama seperti nasehat yang sahabatku terima dari ibunya. Nasehat yang membimbing dan menentramkan. Mungkin itu, entahlah.

Aku butuh energi kasih sayang seorang ibu. Hidupku merasa kurang lengkap, aku yakin Engkau akan menggantinya dengan rumusan rencana agung-Mu yang sampai detik ini sedang berjalan menuju kenyataan. Ya Allah, di setiap sholatku aku tak pernah lupa berdoa untuk mendiang ibuku tercinta. Aku ingin doaku hadir menjadi penerang di alam kuburnya Ya Allah. Jagalah ia di sisi-Mu., Berikanlah cinta dan kasih sayang-Mu untuk nya di alam kubur.

Untuk mengobati rasa rindu pada ibuku, Aku berusaha membaca banyak buku dan artikel tentang ibu, Disitu aku menemukan bab yang aku coba fahami bahwa keberhasilan dari seorang laki-laki adalah karena peran dari wanita di belakangnya, mereka adalah dua bidadari yang doa-doa nya akan selalu menyertai kemanapun kita pergi. Meski dihadang jauhnya jarak, meski dipisahkan oleh lautan samudra. Doa mereka akan tertambat, akan sampai pada Robbi Izati. Mereka adalah sosok ibu dan sosok Istri solekhah yang ada di dalam hidup kita. Yang senantiasa mendoakan dan mendukung sepenuh jiwa atas usaha-usaha kita. Membaca hal tersebut hatiku terasa seperti diremas-remas, kemudia tercabut dari akar ketenangan secara paksa, aku mulai gusar dan sedih karena bahkan aku tidak memiliki salah satu pun diantara keduanya.

Aku juga ingin di doakan dari doa seorang ibu yang katanya doanya sangat mustajab. Karena aku melihat dengan mata kepala sendiri dari sahabat-sahabatku yang dia mengalami percepatan kemajuan dalam hidupnya setelah meminta doa restu dari ibunya. Setelah itu mereka semakin bersinar terang dengan langkah yag meyakinkan dan penuh kemudahan.

Sungguh aku butuh doa-doa mustajab itu untuk ku Ya Allah. Aku ingin di doakan supaya bisa kuat menjalani cobaan hidup ini. Supaya aku  di beri kemudahan mewujudkan mimpi-mimpiku, tentang baktiku pada umat, tentang cita-citaku ingin membangun yayasan untuk minimal 1 juta yatin piatu dengan penerapan basis Iman taqwa sebagai pondasinya dan bimbingan enterprenuer serta leadership sebagai penyokongnya.

Ya Allah, Jika bidadari itu adalah ibu ku yang telah pergi mendahuluiku maka aku masih punya kesempatan untuk memiliki bidadari yang satunya lagi yaitu istriku nantinya, maka yang bisa aku harapkan adalah hadirnya seorang istri yang dengannya  bisa aku rasakan kehangatan kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Aku mohon ya Allah hadirnya bidadari yang satu ini semoga engkau perkenankan istri yang bisa menjadi ibu terbaik buat anak-anaku dan anak-anak asuhku nanti Ya Allah. Istri yang mau setia menamaniku serta mendukungku meraih semua mimpi-mimpi. Seorang istri yang selalu membangkitkan semangat untuk berjuang, berdakwah dan belajar bersama saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam kesabaran. Istri yang akan menerima kelebihan dan kekuranganku dan aku menerima kelebihand dan kekurangannya, istri yang aku mencintainya dan ia mencintaiku karena-Mu. Mohon bimbingan-Mu dalam urusan ini, jauhkan dari perkara nafsu dalam memilihnya.

Dan sambil menunggu saat semuanya siap untuk itu (Menikah), maka saat ini aku memohon semoga engkau berikan aku kekuatan untuk kuat menjalani hidup ini ya Allah sambil terus memantaskan diri karena aku meyakini bahwa segalanya terjadi karena suatu alasan, alasan yang akan menuntunku menemukan cinta-Mu. Berbakti dan beribadah untuk-Mu. Mamaku, aku merindukanmu selalalu.




Diary, dicatat pada Jum`at 28 Februari 2014 pukul 01: 31 WIB di Wisma Al-Banna Purwokerto


Andi Yanto
Sang Pembelajar
Di tulis ulang dari Diary tercinta.
“Semangat menulis, satu hari minimal satu judul tulisan di tahun 2014”



Imajinasi ( Semangat )

Diary, dicatat di Wisma Albanna Senin, 23 Maret 2014 pukul 23:30 WIB

Setiap hari aku merasa mendapat asupan energi penuh daya bak  amunisi yang tak pernah kurang untuk menyongsong hari-hari penuh makna. Tumbuh dalam geliat hidup yang mendebarkan. Deru langkah yang tak terduga menjadi misteri tersendiri untuk dijalani. Adapun terpaan semangat itu kian meletup-letup kala aku baca buku-buku penggugah inspirasi. Rintisan harapan seperti bermunculan layaknya bunga harapan yang mekar penuh pesona.

Ku coba membuka mata imajinasiku. Aku melihat diriku seolah-olah sedang mengarungi lembah perubahan. Jiwa ku menjurus kearah puncak digdaya, dengan sorotan matang, dahi mengernyit tanda kesungguhan. Imajinasiku pun terus menjalar mengikat bayang-bayang kelesuan di  samping kanan dan kiri dan memberangusnya. Rasa khawatirku berderu meyibak setiap jalan yang pikiran biasa tak mampu membayangkanya. Gaduh segaduh-gaduhnya.

Hal lainya begitu sejalan dengan keinginan hati, aku ingin terus tumbuh memunculkan tunas-tunas dan mengeluarkan akar yang mencengkram dengan kuat ke dasar bumi berfikirku. Supaya aku bisa berdiri tegak. Tanpa angkuh tanpa merasa diatas angin.

Sementara angan ini bagaikan anak panah yang melesat lurus menjurus ke pandangan yang tak pernah menemukan batas. Seperti menghujam langit tak terbatasa. Seperti merangsek ke lazuardi alam di jagat raya. Mungkin itulah alasan kenapa hasrat semangatku tak pernah surut, tak pernah mengendur walaupun di gempur berbagai macam keculasan yang memusnahkan. Karena Aku tetap ingin berdiri tegak.

Dalam perjuangan meraih mimpi aku kaitkan dengan makna syahid. Maksudnya syahid dalam perjuangam hidup bukanlah hanya mati untuk membela apa yang kita yakini, namun bagiku membela mimpi-mimpi  adalah kesyahidan yang tak pernah memiliki parameter dibawah syahid hidup yang utama. Semua berbicara pada satu kata yaitu perjuangan. Perjuangan yang tak pernah mengenal kata menyerah.

Mimpi-mimpi adalah hak sekaligus kewajiban untuk membela dan dan dibela. Jika kau adalah pemilik dari mimpi yang kamu yakini maka   mewujudkannya menjadi nyata adalah sebuah keharusan.
Perjuangkan apa-apa yang menurut kita benar dan bisa memberi manfaat untuk orang banyak. Mari menginspirasi.

Diary, dicatat di Wisma Albanna Senin, 23 Maret 2014 pukul 23:30 WIB

Andi Yanto
Sang Pembelajar
Di tulis ulang dari Diary tercinta.
“Semangat menulis, satu hari minimal satu judul tulisan di tahun 2014”



Jumat, 10 April 2015

Jangan Menyerah

Kalau berkenan, silakan baca sampai tuntas, semoga bisa berbagi semangat.

( Tulisan ini telah di ikut lombakan dalam lomba menulis dengan tema " Kisah Nyata Inspiratif yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Zakat Pusat, dan berhasil meraih juara favorit  diseleksi dari 308 karya terbaik yang terseleksi )

Demi sebuah mimpi.

“Kalau saja bukan karena bangunan mimpi-mimpi yang aku harapkan tumbuh menjulang, mungkin bisa saja langkah ini tumbang sejak dulu. Kalau saja bukan karena harapan dan iman akan nasib baik yang masih bergelora di dalam dada, Bisa saja langkah ini mati dalam gerak henti. Kalau saja aku egois dengan kebodohan yang “merenggutku” dengan perlahan. Bisa saja aku sekarang terkapar dalam kungkungannya karena aku tak punya daya dari tuntutannya yang mengerdilkan. “

Namun Tuhan punya cara-Nya bagi siapa saja yang masih mau berharap, walau hanya sekadar berharap ---bagi tuhan itu sudah mampu membedakan siapa diri kita, apakah kita adalah pribadi yang mudah menyerah pada keadaan dan putus asa atau malah pribadi mau berusaha.
Semua demi suatu harapan yang aku sebut sebagai masa depan. Suatu masa dimana kemungkinanan-kemungkinan besar dalam hidup sangat pantas untuk diwujudkan. Oleh karena masa depan menjadi hal penting menurutku, maka aku berfikir bahwa aku butuh untuk mengenyam pendidikan lagi. Aku merasa butuh pendidikan yang lebih tinggi, aku butuh pendidikan yang mampu mencerahkan hari esok sebagai lentera pengusir gelap dalam berfikir. Butuh pendidikan sebagai ramuan penyembuh dari pengidap penyakit dangkalnya pengetahuan. Semua berarus pada hasrat untuk meraih masa depan yang lebih baik. “ Supaya kelak dimampukan untuk “berbuat lebih banyak” dengan langkah lebih  mudah namun untuk berdampak lebih besar.”

Kawan, izinkan aku memulainya untuk berbagi kisah nyata yang semoga bisa bermanfaat untuk menyemangati kita semua dalam memperjuangkan mimpi-mimpi. Sebelumnya aku ceritakan siapa aku, aku adalah anak seorang buruh tani yang yang hidupnya pas-pasan dan tinggal di sebuah kampung/pedukuhan bernama Sigedeg, yang merupakan bagian dari desa Tanjungsari kecamatan Wanasari, kabupaten Brebes Jawa Tengah.
Di keluarga besar ku (terhitung dari nenek dan kakek kebawah) baru ada satu yang mengenyam pendidikan sampai kuliah. Yaitu aku. Orangtuaku tidak lulus SD, Paman serta Bibiku juga beruntung lulus SD, Ke 2 kakak-kakaku lulus SD, adiku kemarin baru lulus Mts. Sisanya sepupuku lulus SD dan 2 orang sepupuku lainya lulus Mts/SMP. Hanya aku yang beruntung bisa sampai mengenyam pendidikan setara kuliah.

Kawan, aku ceritakan padamu. Dikampungku, untuk bisa bersekolah itu sangat susah, di karenakan waktu itu masyarakatnya masih anti pati dengan pendidikan. Bukan soal mampu dan tidak mampu tapi karena sudut pandang sebagian mereka dalam memandang pendidikan masih kurang bijak. Sehingga masa-masa perjalanan sekolahku dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA , dari SMA sampai bisa kuliah juga tidak lepas dari karunia Allah serta usaha yang harus benar-benar di perjuangkan. Semuanya penuh lika-liku, jalan berkelok, batu kerikil dan sebagainya. Harus tahan dengan penuh gunjinngan, hinaan tetangga, cobaan finansial yang menekan sampai sesak dada ini, beberapa kali sempat tidak diizinkan, namun karena kesungguhanku untuk bersekolah. Orang tua akhirnya mengusahakannya, dan menyanggupi hingga lulus SMA. Aku sangat bersyukur untuk hal ini.
Terus bagaimana ceritanya aku bisa kuliah? Yang jelas, orang tuaku tidak tahu kala itu, karena di keluargaku aku sudah di larang keras untuk kuliah. Kuliah adalah kosa kata mewah di kampungku. Sebuah kata yang barangkali terlalu “borjois” untuk kalangan kami anak buruh tani. Karena hanya orang ber-uang saja yang boleh mendapatkan kesempatan berkuliah.

<photo id="4" />

(Awal mula ketika jejak langkah ini menginjak kota Indah nan sejuk daratan Purwokerto 5 tahun silam )

Namun aku tidak menyerah begitu saja, akupun meminta kepada orang tua untuk menyertakakanku dalam lembaga pelatihan kerja Magistra Utama di kota Purwokerto selama satu tahun, namun belum genap satu tahun aku ingin bisa kuliah, sehingga di hadapkan pada pilihan harus mempelajari ulang semua mata pelajaran yang sudah sebagian besar terlupakan.

Di LPK Magistra Utama aku mengambil program Management Informatika sehingga mata pelajaran SMA sudah lupa semua. Namun tak masalah bagiku, demi mimpi merubah nasib, aku pun belajar mempersiapkannya dua bulan untuk ikut SNMPTN (Seleksi nasional masuk perguruan tinggi) hingga lulus di terima ke Universitas Negeri, sementara di Magistra Utama pun aku bisa lulus dengan IPK memuaskan.
Yang selalu aku yakini adalah “Manis selalu akan terasa setelah mengecap yang pahit” itulah essensi perjuangan menurutku. Esensi yang harus di saksikan pahit manis getir perjuangan. Dan beginilah awal dari semua nya.

Sebuah momentum. ( Baca sampai selesai )

Waktu itu baru saja selesai ujian SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di selenggarkan pada dari 8-19 Juni 2010, dari pendaftran online aku mendapatkan lokasi ujian di SMP N 2 Purwokerto. SMP Negeri 2 Purwokerto ruang 3 jalan Gereja. Ada sekitar 200 peserta yang mengikuti ujian SNMPTN di lokasi tersebut. Satu ruangan masing-masing di isi oleh 30 peserta. Nomer peserta ujian di awali dari nomer 210 41 020203000 sampai 210 41 020203200 (Sumber catatan diary). Sedangkan Aku mendapatkan nomer urut peserta SNMPTN 210 41 020203017 sehingga menepati posisi duduk di nomer urut pertama. (SNMPTN tahun 2010 waktu itu sangat berbeda dengan tahun sekarang, belum ada SNMPTN undangan, semua murni tes nasional)

Ujian SNMPTN dilaksankan selama 2 hari yaitu dengan perincian hari Rabu 18 Juni 2010 untuk Tes Potensi Akademik dan Tes Bidang Study Dasar sedangkan Kamis 19 Juni 2010 Tes Bidang Study IPS. Selama 2 hari itu aku berjibaku dengan soal ujian SNMPTN. Aku semangat!!

Detik-detik yang menegangkan

Pengumuman Hasil SNMPTN di umumkan secara online. Kala itu sebuah koran nasional ; KOMPAS menerbitkan jawaban soal ujian SNMPTN. Aku sempat melihatnya, ada banyak jawaban yang sama dengan yang aku kerjakan, namun rasa khawatir itu tetap ada. Tidak puas di tambah rasa penasaran akhirnya aku beranikan mengeceknya melalui online.

Dengan penuh kecamuk badai di hati, aku beranikan ke warnet, ada rasa takut membuncah, ada rasa cemas mulai bermunculan. Khawatir kalau aku tidak di lolos. Aku malu seandainya tidak lolos ujian. Aku malu kepada mas Syaeful, mas Yomi dan mas Arief yang telah berusaha banyak mendukungku. Mereka adalah orang yang membantu menyemangati aku hingga aku berani mendaftar kuliah. Merekalah sosok berjasa di balik semua ini.

<photo id="8" />

(Sileut Senyum yang coba kami hantarkan pada alam pagi, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Fathul Huda Purwokerto )

Akhirnya aku berdoa dan mulai membuka website www.snmptn.ac.id dan memasukan no peserta ujian masuk. Jemari mulai mengetik nomer peserta 210 41 020203017. Aku seperti di sambar petir, kepalaku pening, gusar ku menjadi-jadi. Di detik itu aku tekan tombol enter dengan terus berdoa. Masya Allah Internet lambat sekali, cemasku semakin parah. Beberapa menit kemudian aku kaget seolah tidak percaya, di layar computer warnet itu aku baca dengan seksama. Alhamdulilah aku “ LULUS” ujian SNMPTN.

Belakangan aku tahu kalau ternyata di lokasi ujian SMP N 2 Purwokerto hanya ada 5 peserta yang lolos. Dari nomer peserta 210 41 020203000 hingga 210 41 020203200 ternyata yang lolos adalah peserta dengan nomer 210 41 020203002, 210 41 020203004, 210 41 020203005, 210 41 020203009 dan terakhir adalah nomer 210 41 020203017 yang tidak lain adalah nomer pesertaku. Bagiamana aku bisa tahu? karena aku mengeceknya melalui nomer urut dari awal 210 41 020203000 hingga akhir 210 41 020203200. Dan didetik itu juga cemas yang bergumpal di dada mendadak luruh, aku bahagia. Aku merasa usahaku dalam belajar mati-matian, doa yang tak pernah berhenti terpanjat telah memberi hasil nyata. Lulus SNMPTN.




Kawan, tenyata kebahagiaan yang aku dapat pada hari itu berlangsung sebentar karena aku tiba-tiba teringat tentang apa yang harus aku lakukan; yaitu mempersiapkan pembayaran sebesar Rp. 4.450.000 untuk registrasi konfirmasi status kemahasiswaan.

Uang tersebut terdiri dari Biaya Pendidikan : Rp. 1.950.00. Angsuran pertama BOPP (20%) : Rp. 250.000, awal BOPP Rp : Rp.2.250.000. Aku masih ingat data itu dengan detail karena aku sungguh merasakan beratnya beban pada saat itu.

Jumlah uang tersebut adalah syarat syahnya aku supaya di akui sebagai mahasiswa, apabila sampai tenggat waktu yang telah tentukan namun belum juga membayar maka dengan sangat terpaksa status kemahasiswaan ku akan di “HAPUS” atau dengan kata lain batal menjadi mahasiswa. Detik itu juga kepalaku dingin, semua langkahku terasa kebas. Rasa resah mulai menjalari tubuhku.

Kawan, tak pernah aku bercerita pada orang tua tentang hal ini. Alasanya adalah karena takut tidak di izinkan karena soal biaya. Akhirnya aku mencari mas Syaeful, mas Yomi dan mas Arief, Dadaku sesak merasa di khianti keadaan hanya karena soal uang.

Kesempatan menjadi mahasiswa sudah di depan mata. Dengan berbagai cara aku menghimpun segenap hati yang berantakan, mencoba mempersiapkan diri seandainya aku kalah dengan nasib, namun disudut hatiku yang paling dalam ikut membatin bahwa aku layak menjadi mahasiswa di sebuah Universitas negeri. Aku layak kuliah meskipun tak memiliki uang.

<photo id="5" />

(Sepeda BMX ini adalah saksi bisu, perjuangan untuk bisa kuliah. Telah setia menemani perjalanan selama kuliah meski rantai sepedanya selalu bermasalah alias suka lepas dan belepotan oli. )

Kala itu aku di beri tenggat waktu sejak pengumuman kelulusan tes SNMPTN. Beban mencari uang sebesar Rp. 4.450.000 begitu terasa memberatkan. Aku berusaha untuk berfikir positif, naluriku terus berkata bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan seorang hamba yang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu, bahkan seandainya mati sekalipun agama mengabadikan perjuangan dalam mencari ilmu sebagai bentuk Syahid yang di akui oleh-Nya.

Lamat-lamat dalam kesendirian aku merenungkan, sesekali air mata jatuh menitik karena tak kuasa daya ini memanggul beban seberat itu, namun sekali lagi relung hatiku terus menggemakan suara batin bahwa aku pasti mampu menjalani semuanya. Aku berseteru dengan keyakinan yang mengguncangkan seisi keraguan, keraguan itupun tumbang berjatuhan. Aku pun bangkit mecoba berusaha meminjam dana. Namun yang ada adalah aku di caci maki, di hina, di cibir sana-sini, sungguh tak ada kata-kata pendukung barang sedikitpun untuk menguatkan. Hati lebam, ragaku remuk. Jiwaku berantakan. Kata mereka aku tidak tahu diri karena sudah tau tidak punya uang masih saja mau kuliah. Miris.

Batinku terus bergemuruh dan mulai gerimis sedih, Ini semua tak lepas dari tekadku. Tekad seorang laki-laki muda. Aku merasa sebagai laki-laki berharap kelak jika sudah berkeluarga akan mampu membuktikan martabatnya dengan penuh tanggung jawab. Salah satunya adalah menafkahi keluarga, maka usahaku ingin melanjutkan kuliah juga salah satunya supaya bisa mapan dan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan nafkah. Selain itu aku juga ingin memperbaiki nasib, supaya mampu menjamin pemenuhan kebutuhan keturunannku. Kebutuhan keluargaku, kebutuhan masa depan anak-anaku akan pentingnya pendidikan. Dan jika perlu kebutuhan pendidikan lingkungan di sekitarku.

Hati bergeming, fikiran sempoyongan lemas diterpa angin bengisnya penghianatan atas keadaan, semuanya membuatku semakin lusuh. Aku tak mau tinggal diam, Waktu itu aku masih tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari kampus. Segera aku pakai sepeda BMX yang ada di pesantren di kebon dalem Purwokerto, Jalanya lumayan menanjak jika berangkat dari arah Kebondalem Purwokerto menuju kawasan kampus tersebut. Aku pun menceritakan semuanya kepada mas Syaeful, mas Arief dan mas Yomi. Mereka menyarankan aku untuk mengajukan surat pernyataan pengurangan biaya ke Rektorat Universitas Jenderal Soedirman, saat itu sebenarnya aku tahu mas Sayaeful adalah seorang Bussines Owner kuliner, mungkin mudah saja memberi pinjaman sebanyak Rp4.450.000. Namun aku tahu, Mas Syaeful bukanlah tipe orang yang memanjakan, beliau ingin mendidikku untuk berusaha bersungguh-sungguh sehingga beliau memberi aku pinjaman sebesar Rp.500.000 dan memberikan beberapa nomer telepon yang bisa aku hubungi untuk meminta pinjaman sedangkan selebihnya aku yang harus mencari lagi.

<photo id="6" />
(Tawa itu pecah, Saat moment wisuda Magistra Utama program management informatika bersama kawan. Aku berdiri nomer urut 2 dari kanan. 2010 )

Aku pun menguhubungi mereka diantaranya ada mas Yugo dan Bapak Rizky Februansyah (Kepala Program Studi Bahasa & Sastra Inggris UNSOED). Mas Yugo adalah marketing dealer mobil Toyota di Purwokerto pada saat itu. Aku berkunjung ke rumah beliau dengan berterus terang ingin meminjam dana. Dari hasil silaturahmi itu aku mendapat pinjaman Rp.500.000. Uang sudah terkumpul satu juta rupiah. Selanjutnya masih ada sekitar Rp.3.450.000, kemana aku harus mencarinya lagi. Aku bingung dan terus berusaha mencari. Ya Allah aku tak mau menyerah.
Hari selanjutnya aku diantar untuk meminta keringanan biaya di kampus Pusat Rektorat UNSOED. Perlu diketahui kawan, bahwa mas Syaeful adalah alumni UNDIP Mahasiswa Fakultas Teknik Industry, jadi beliau hanya memiliki sedikit relasi untuk orang penting di kampus UNSOED Purwokerto.

Kala itu di depan gedung rektorat sedang ada aksi demo dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsoed. Di situ aku bertemu dengan seorang laki-laki bernama Muharam Ardiansyah, beliau adalah presiden BEM Fak Ekonomi, melalui orang inilah pertolongan Allah hadir.
Siang itu terlihat cerah, terik mentari terasa memanggang ubun-ubunku, sementara beberapa aktivis mahasiswa masih melakukan aksi di depan gedung rektorat. Aku dan mas Syaeful waktu itu masih mencari ruang bagian kemahasiswaan Universitas. Mas Muharam Ardiansyah, menemui kami dan sempat menanyakan maksud dan tujuan kami ke gedung rektorat. Kami pun menjelaskan sambil berharap akan menemukan solusi.
Setelah kami jelaskan maksud kami untuk meminta keringanan, beliau malah menyuruhku membuat surat disposisi keringanan biaya. Aku menyetujuinya dan setelah itu aku meminta nomer kontak mas Muharam Ardiansyah.


Kami pulang, mas syaeful mengantarkan aku ke pesantrenku dan aku langsung membuat surat permohonan keringanan biaya kuliah. Saat itu aku berkomunikasi dengan mas Muharam untuk teknis pembuatannya.

Waktu itu aku membuat surat permohonan keringan dana di tujukan kepada Rektor Univerisitas Jenderal Soedirman. Aku membuatnya dengan tulisan tangan diatas kertas Folio sebanyak 4 lembar; isinya sebagai berikut :

Surat permohonan pengurangan Dana
1.Keinginan Besar melanjutkan Kuliah
2.Keterbatasan untuk Akses biaya pendidikan
3.Rincian Alasan Pengajuan
4.Permohonan pembebasan biaya registrasi & BOPP

Lampiran :
1. 1 lembar surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. (orang tua juga belum tahu alasan ketika aku meminta ini karena tidak di tanyakan)
2. 2 lembar struk Tagihan listrik
3. 1 lembar Bukti Pendaftaran SNMPTN 2010
4. 1 lembar Fotocopy KTP

Setelah selesai dibuat aku menghubungi mas Muharam, dan ternyata harus di ketik, maka aku buat ulang dengan di ketik format Microsoft Word dan di Print beserta amplop rapih.

Keesokan harinnya aku langsung menuju ke gedung rektorat Universitas, dan Mas Muharam yang waktu itu sedang menjabat sebagai President BEM FE UNSOED, mengutus staf adavokasinya untuk membantu aku mengurus surat permohonan keringanan biaya.

Waktu itu yang di utus adalah mas Tio, dia adalah bagian penting di BEM FE UNSOED. Setelah menyerahkan surat, mas Tio pulang, sementara aku berdiri terpaku merasakan betapa cobaan itu teramat berat, ingin kuliah saja harus seperti itu dulu belum lagi urusan selanjutnya, seketika itu mataku mulai berkaca, bulir-bulir cairan bening itu mengumpul di kelopak mata namun enggan menetes. Aku sedih, haru sekaligus bahagia. Setidaknya gubahan perasaan itu bersatu menjadi sebuah shimponi yang nadanya cukup menghiburku.

Waktu seolah seperti puting beliung yang menyedot hari-hariku begitu cepat. Deadline semakin dekat (10 Juli 2010) sementara uang baru ada Rp.1000.000 dari Rp Rp.4.450.000 , masih minus RP.3.450.000. Aku masih ingat bahwa aku telah menyerahkan surat poermohonan keringanan biaya. Maka kala itu, aku dari Pesantren segera menuju ke kampus pusat UNSOED untuk meminta konfirmasi. Alhamdulilah aku di beri keringanan sebesar Rp.2.500.000. Masih kurang Rp. 1000.000.

Aku bingung bercampur resah, fikiran kalut, hari semakin mendekati deadline, Sungguh seperti telur di ujung tanduk, berharap ada angina segar, namun begitulah keadaan pailit, dunia seperti sempit bener-benar sempit, di sini kabar baik belum juga aku peroleh, Benar-benar pilu, hati inipun gusar tak tentu arah bagai di khianati oleh kenyataan. Saat itu berteriak dalam hati bahwa “ Aku benci menjadi miskin”. Aku terus mengutuk diri.

Namun aku sadar semua harus bersama dengan perjuangan. Aku mencoba mengingat-ingat semua kenalanku. Aku mencoba menghubungi mereka namun tidak ada yang bisa membantu karena benar-benar sedang tidak punya uang lebih untuk bisa di pinjamkan kepadaku.


# Juma`at, 9 Juli 2010 #

Hariku terasa berat, Sunnguh aku masih belum menyerah. Hingga di detik ini, Aku bahkan masih belum memberitahu keluarga dirumah bahwa aku telah mendaftar kuliah di sebuah universitas.Pikirku Biarlah ortuku, serta kakek dan neneku tidak tahu tentang kondisiku di Purwokerto pada saat itu. Aku sungguh tak ingin membuatnya bertambah susah.Cukup bagiku penderitaan ini aku emban sendiri. Aku tak akan menyerah.
Siang itu juga, Aku pergi ke tempat mas Syaeful di daerah kampus pusat Universitas Jenderal Soedirman. Selama dalam perjalanan memakai sepeda, di pinggir jalan aku menyaksikan banyak mahasiswa baru yang mengenakan baju dengan atasan berwarna putih dan bawahan hitam, mereka terlihat terawatt dan rapi, sedangkan aku seperti membusuk meratapi nasib.Mereka adalah mahasiswa baru yang telah lolos ujian SPMB yang lebih dulu dari pada SNMPTN.Aku begitu iri, cemburu lebih tepatnya melihat mereka. Hati ini perih, hati ini melolong penuh sesak ingin seperti mereka namun apa daya.

Aku mendengar adzan sholat Sholat Jum`at. Waktu itu aku berada di komplek yang berdekatan dengan Masjid Fatimatuz Zahra Purwokerto. Setelah selesai sholat dan dzikir batinku terasa luruh, gundahku merembas seperti menghilang, kegelisahanku musnah ke arah antah berantah. Tiba-tiba aku teringat dengan beberapa teman. Salah satunya adalah Rifki. Dia adalah mahasiswa UNSOED dari luar pulau jawa karena transmigran dari Kalimantan, dia tinggal di sebuah asrama mahasisiwa khusus untuk anak transmigran. Aku menghubungi dia usai sholat Jumat, bermaksud meminta tolong.

Setelah aku menghubunginya, dia meminta aku untuk berkunjung ke asramnaya di asrama Transmigran itu. Aku bergegas menuju ke asramanya, sesampainya di tempat tersebut, aku menceritakan dengan terus terang maksud kedatanganku, yaitu meminjam uang untuk melengkapi kekurangan untuk bayar registrasi. Dan sayang nya dia sedang tidak ada uang bahkan dia mengaku uangnya tinggal beberapa lembar buat makan bebeberapa hari ke depan. (Ternyata belakangan baru tahu hal semacam ini menjadi momok buat mahasiswa dengan uang saku kiriman terbatas).

Aku benar-benar belum menemukan jalan keluar, kemudian aku teringat lagi rekomendasi mas Syaeful yaitu bapak Rizky Februansyah. Kebetulan di handphone sudah aku simpan nomer beliau, Aku sms beliau dengan bahasa sopan dan jujur yang intinya memberitahukan bahwa aku yang merupakan kenalan mas Syaeful diminta untuk minta bantuan kepada beliau.

<photo id="9" />

(Apapun selama itu demi meraih mimpi, aku tak akan pernah menyerah berjuang.)

Aku belum mendapatkan balasan sms dari bapak Rizki, sementara temanku Rifki datang menghampiriku dan memberitahukan bahwa salah seorang temannya yang merupakan mahasiswa Fakultas peternakan UNSOED katanya bisa membantu aku karena kebetulan temannya itu baru mendapatkan dana lomba dari PKM (Program Ketrampilan Mahasiswa). Demi Allah, di detik itu, Aku seperti mendapatkan kabar baik, aku juga mendapat nomernya dan aku simpan di handphone ku.

Sesaat setelah aku sms ke nomer tersebut, dia bilang akan bantu aku besoknya yaitu hari sabtu tanggal 10 Juli 2010, hari deadline pembayaran akhir untuk registrasi. Aku cemas aku masih ingat aku baru mendapatkan uang sebesar Rp.1.000.000. dari total Rp.4.450.000. Entah dengan cara apa lagi harus aku usahakan.

Sore itu, tercatat oleh langit, Juma`at 09 juli 2010, aku masih terus kepikiran, aku pulang ke pesantren dan mencoba menghilangakan sejenak kegundahan tersebut. Seperti biasa aku mengikuti jadwal pesantren seperti ngaji, dan baca Al Qur`an. Setelah itu aku berdoa dengan pengharapan penuh bahwa akan datang sebuah kemudahan.

Setelah agenda di pesantren sampai jam 9, aku segera berangkat ke tempat mas Syaeful Di daerah kawasan kampus UNSOED dengan menggunakan sepeda BMX. Jalanya lumayan menanjak jika berangkat dari arah Kebondalem Purwokerto menuju kawasan kampus. Aku terbiasa melakukan perjalanan ke tempat mas Syaeful. Namun malam itu terasa berbeda.Kawan, sungguh badanku terasa berat, aku benar-benar kelelahan. Aku lupa kalau aku belum makan selama beberapa hari, masih ingat makan terkahir adalah makan kemarin.Sungguh tidak bernafsu untuk makan.Tapi aku benar-benar tidak mau menyerah. Aku bertekad mencari pinjaman uang sebesar Rp.3.450,000 lagi. Jangan menyerah.

Aku menyampaikan ke mas Syaeful pada saat itu. Mas Syaeful ingin membantu kala itu, tetapi beliau baru saja memberi setoran untuk investor di rumah makannya. Aku bingung teramat sangat. Aku pun mencari bantuan pinjaman ke teman-teman ku. Aku pun menuju ke kosan mas Yomi dan mas Arif. Aku menaruh harapan besar kala itu.

Malam telah larut, udara di sekitar kawasan kampus pusat Unsoed mulai dingin ganas mencucuk.tulang. Sekitar pukul 22.30 WIB aku sampai di tempat mas Yomi dan mas Arif. Mereka benar-benar merasa prihatin dengan keadaanku. Sungguh aku tak berdaya saat itu. Kedua teman dekatku ini, mas Yomi dan mas Arif pun ikut sedih. Basah mata tidak bisa aku tahan, kala itu aku tiba – tiba terharu ketika mendapati mereka menyerahkan dompet dan isinya kepadaku. Waktu itu mas Yomi memberikan aku uang sebesar Rp.200.000, karena di dompetnya tinggal 5 ribu rupiah. Sedangkan mas Arif menyerahkan uang sebesar Rp. 300.000 karena yang tersisa di dompet tinggal Rp.2000 di tambah receh Rp.500 uang logam. Mereka berdua mengatakan kepadaku kalau aku di suruh memakai saja uang tersebut, boleh dikembalikan jika aku sudah mapan dan sudah menjadi orang sukses. Sangat berterima kasih sekali ya Allah. Meskin waktu itu batinku perih, namun sadar bahwa perjuangan meraih mimpi itu butuh pengorbanan yang tak terkira.

Kawan, Moment itu benar-benar tak akan pernah aku lupakan dalam hidup. Serupa rekaman ke abadian yang berjejal mengisi memori perjalanan hidup ini. Saat, itu ditangan sudah terkumpul uang sebesar Rp.1.500.000 yang tidak lain dan tidak bukan adalah berkat jasa-jasa teman-temanku. Sementara dari Universitas memberi keringanan sebesar Rp.2.500.000 jadi total kurang adalah Rp.1000.000. Aku masih belum menyerah.
Saat itu sepeda BMX yang aku pakai memang memiliki masalah dengan rantainya. Sepeda tersebut termasuk sepeda BMX model tua, sudah beberapa kali rusak parah, rantainya selalu dilumuri oli bekas dan suka lepas kalau di pakai dan pasti tanganku akan sangat kotor dikarenakan oli nya. Aku benar-benar kesal jika sedang mengalami hal itu. Dan ternyata hal itu menimpa aku saat aku sedang dalam kondisi yang sangat kritis tersebut.

Aku benar-benar merasa sangat lelah, malam semakin larut hingga pukul 23.45 WIB waktu aku tengok di handphone Nokia Pholiphonic ku, tetapi aku tak mau menyerah, Aku menyusuri jalan penuh bebatuan di sebuah gang, bertujuan untuk mencari kosan seorang teman yang katanya bisa memabantu.Aku mengendarai sepeda BMX yang aku pakai, namun karena jalan bebatuanya rusak parah maka berkali-kalai rantai sepedaku lepas, tanganku blepotan berlumuran oli, udara malam kala itu memang mulai dingin mencucuk tulang. Aku bertemu dengan seseorang yang katanya bisa membantu aku, namun ternyata dia juga sedang tidak ada duit, dia meminta maaf dengan sangat menyesal belum bisa membantu. Namun kawan, ada yang ganjil. Dia menjabat tanganku, aku merasakan seakan-akan dia meninggalkan sesuatu di tanganku, disela-sela jemari aku medapati uang Rp.100.000 rupiah. Ya Allah hatiku terluka sekali saat itu, itukah aku saat itu? Kawan, Aku bahkan di beri uang dari orang yang belum aku kenal, apa bedanya aku dengan pengemis? batinku menangis, ragaku lemas lunglai, aku malu sekali aku memanggilnya untuk menolak pemberianya namun orang tersebut sudah pergi. Malam yang begitu kelu.

<photo id="10" />
(Cahaya itupun mulai tampakan pendar sinarnya. Aku pun bersyukur Allah maha adil untuk memberikan apa yang hambanya pernah perjuangkan.)

Setelah itu temanku menghubungi seluruh teman-temanya untuk membantu aku, namun aku menolak jika terkesan seperti meminta sumbangan, jadi aku putuskan meminjam BUKAN meminta. Aku merasa hina jika aku meminta, maka aku bersih keras untuk hanya meminjam. Sehingga temanku mengenalkanku kepada temanya yang lain dan memintaku untuk bekerja supaya di pinjami uang. Aku sempat akan menyetujuinya namun setelah tau bahwa jam kerjanya dari pukul 07:00-16:00 WIB aku buru-buru menolaknya, karena bagaimana mungkin aku menerima jam kerja yang akan berbenturan dengan jam kuliah nantinya, sungguh aku begitu kesal.

Kawan, malam itu aku pulang dengan badan yang tinggal ambruk, Fikiranku porak poranda, bahkan aku begitu sangat menderita. lupa makan, kurang tidur dan jarang tersenyum. Sesampainya di Pesantren pukul 01:30 WIB tanggal 10 juli 2010. Aku ambruk tertidur dan tiba-tiba bangun sudah subuh saja.

Sabtu 10 Juli 2010 # hari terakhir deadline untuk pembayaran, di ingatanku hanya masih ada 2 kemungkinan yang harus aku dapatkan untuk meraih kesempatan menjadi mahasiswa UNSOED. Yaitu janji mahasiswa peternakan UNSOED yang kemarin jumat katanya baru bisa memberi bantuan besoknya yaitu hari sabtu, dan hari itu adalah hari sabtu. Segera aku ingin kesana.

Pukul 07:00 WIB sabtu 10 Juli 2010. Aku pergi menuju ke asrama mahasiswa transmigran, kala itu aku belum makan dan merasa tidak butuh makan. Sebelum menuju ke rumah mahasiswa transmigran, aku mencoba melihat kampus pusat rektorat terlebih dahulu. Aku penasaran untuk mencoba mengurus beasiswa karena benar-benar sangat kesusahan saat itu.

Aku pun mengahadap salah seorang pegawai di kantor administrasi dan bertanya banyak tentang beasiswa, aku menjelaskan tentang keadaanku dengan penuh diplomatis, beliau adalah Bapak Kusja, seorang pegawai bagian administrasi Pusat kampus kala itu. Aku berdiskusi dengan beliau, beliau sangat baik dan sangat ingin membantu aku.Waktu itu beliau menyuruhku untuk masuk beasiswa bidik misi, dan aku sangat bahagia kala itu.

Saat itu memang yang antri ada banyak sekali, namun aku tidak tahu kenapa, ketika aku datang aku langsung mendaptakan giliran, waktu itu seingat aku di tanya jalur SNMPTN atau SPMB, pas aku bilang SNMPTN , aku langsung di minta menghadap.
Hatiku masih berbunga-bunga kala itu karena mendengar sendiri diminta mendaftar beasisiwa bidik misi, kemudian dengan senyum sehangat mentari pagi, pak Kusja mengambilkan aku beberapa kertas yang harus aku isi, Akupun mengisi dengan tenang. Sementara bapak Kusja sibuk mengangkat telephone dari tamu.

Setelah aku hampir selesai mengisi semua kolom yang perlu di isi, tiba-tiba pak Kusja menanyakan tentang sesuatu yang membuatku terperanjat, yaitu beliau bertanya tentang tahun kelulusanku saat aku lulus dari SMA? Aku kaget kenapa beliau bertanya seperti itu. Namun, semua harus di jawab dengan jujur. Maka aku jawab kalau aku lulus SMA pada tahun 2009, aku jelaskan bahwa waktu itu setelah lulus dari SMA kemudian lanjut ke Magistra Utama untuk 1 tahun program Managemen Informatika terlebih dahulu baru kemudian lanjut kuliah.

Mendengar jawabanku bapak Kusja menanyakan lagi tentang tahun kelulusannku. Akupun sama menjawab tahun 2009. Saat itu pak Kusja merasa sedih dengan aku, karena kata beliau beasiswa bidik misi hanya untuk mahasiswa baru lulusan tahun 2010, kalau tahun 2009 dengan sangat minta maaf tidak bisa. Pun juga dengan permintaan penundaan pembayaran yang sempat aku ajukan, beliau bilang tidak bisa. Saat itu aku kaget, semua perasaan bercampur jadi satu. Aku merasa di khiantai kenyataan. Aku merasa dunia begitu keras dengan keadaanku, aku merasa beban begitu berat menindihku. Namun aku tak akan pernah menyerah.

Saat itu aku larut dalam sebuah kepedihan menerima pahitnya perjuangan ingin kuliah, demi Allah saat itu batinku begitu kecewa. Dengan hati robek tersayat-sayat, aku serahkan kembali kertas yang sudah hampir selesai aku isi tersebut. Aku mengucapkan terima kasih dan salam kepada bapak Kusja saat itu. Beliau sebenarnya sangat ingin sekali membantu aku, namun apa daya kungkungan sistem telah menahanya untuk berbuat lebih. Birokrasi yang terkadang menahan untuk berbuat lebih dari yang seharusnya. Aku pun tak patah arang.

Aku seperti digilas-gilas keganasan sang waktu, merenggut aku dari seluruh moment-moment indah, aku telah membiarkan badanku kusut masai, kurang makan dan berat badanku pun juga turun drastis, mataku menghitam seperti mata panda, senyum ku pun hilang entah kemana rimbanya. Aku benar-benar hampir putus asa, Namun aku tetap tak ingin menyerah sekali lagi aku pasti bisa lulus dari ujian itu.

Setelah keluar dari ruang Administrasi Pusat , aku mendapati sms masuk di hp ku. SMS itu berasal dari bapak Rizki yang isinya menanyakan tentang apa yang bisa beliau bantu untuk aku. Waktu itu aku kepikiran bagaimana kalau menunda saja, tetapi hal yang membuat aku takut adalah namaku di coret dari daftar mahahsiswa baru — yang mana itu berarti sama saja aku batal menjadi mahasiswa. Terlalu berisiko.

Jadi aku balas sms bapak Rizky Februansyah dengan permintaan tolong untuk membantu meminta penundaan pembayaran yang masih kurang Rp.1000.000.

Setelah aku membalas sms tersebut aku tunggu tapi tidak ada balasan, aku hendak menelepon tetapi tidak berani karena belum kenal dekat dengan beliau sehingga aku mencoba untuk melanjutkan langkah-langkah menjemput nasib berspekulasi dengan takdir menuju ke Asrama mahasiswa Transmigran. Aku tak akan pernah menyerah untuk berjuang.

Setelah sampai disana aku menunggu orang tersebut, Aku membayangkan seandainya temanya Rifki tersebut ada dan memiliki uang, aku merasa beban di pundak itu benar-benar hilang. Aku sms dia, tapi tidak ada balasan, padahal dia sendiri yang bilang kalau tanggal 10 juli 2010 aku di minta ke asramanyatetapi malah tidak ada.

Keadaan saat itu, masih sepi dan saat itu aku sempat berusaha untuk menelepon. Dari suara telepon terdengar seperti dia sedang dalam perjalanan. Dengan begitu mudahnya dia mengatakan kalau kemarin itu bercanda, soal uang yang katanya dari PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) itu ternyata fiktif alias tidak nyata. Uang tersebut sudah dari dulu di pakai buat proyek memilihara kambing dan sapi mahasiswa peternakan. Jadi semuanya adalah bercanda.

Mendengar alasan dan tanggapan telepon dari dia, darahku mendidih. Aku marah-marahin dia di telepon sejadi-jadinya. Waktu itu sedang sepi. Benar-benar sakit hati sekali rasanya disaat sedang sangat membutuhkan dana yang notabene kritis malah ada orang lain yang menganggap bercanda, benar-benar lengkap sudah penderitaanku. Aku langsung mengambil sepeda dan menuju ke kampus lagi. Dan seperti biasa sepeda yang aku pakai rantainya lepas, dan tangankupun belepotan terkena oli hitam yang melumuri rantai sepeda tersebut. Lengkap sudah.

Saat itu sudah pukul 10:30 WIB sabtu 10 Juli 2010, deadline pembayaran tinggal 1,5 jam lagi karena maksimal pembayaran jam 12:00 WIB, Aku benar-benar bingung saat itu. Aku lelah, cape dan merasa kurang tidur, aku lapar, aku ingin mengadu namun kepada siapa? Apalagi sms dari bapak Rizki saat itu belum sampai. Ya allah saat itu aku hampir pasrah dengan semua keputusan. Aku lemas dan benar-benar terasa sakit sampai ke ulu hati, menerima kenyataan betapa susahnya ingin bisa berkuliah untuk orang kampung seperti aku.

Setitik energi menetes dari terik matahari yang menyengat kulit, bahwa aku harus bangkit, aku harus tegak berdiri memperjuangkan mimpi ini. Aku tak ingin kalah dengan keadaan. Aku pun bergegas melakukan ikhtiar lainya menuju ke Kantor Pusat administrasi Universitas Jenderal Soedirman.
Kawan, Sungguh skenario yang indah dari-Nya. Ketika akan masuk tiba-tiba aku berpapasan dengan Bapak Rizki Februansyah. Aku menyalaminya dan beliau kemudian menyuruh aku untuk menghadap bapak Kusja. Kala itu bapak Rizki terlihat terburu-buru. Aku pun saat itu juga langsung bergegas menuju ke ruang bapak Kusja.


<photo id="11" />
(Semua perjalanan pasti akan ada ujung dimana kita akan sampai, berjuang tanpa lelah adalah sebaik-baik usaha pencapaian itu.)

Setibanya di ruang bapak Kusja, aku melihat suasana telah berubah.Wajah beliau tidak tampak seperti waktu tadi pagi ketika bertemu dengan aku. Ada yang lain, sungguh berbeda. Yang ini begitu asing. Saat itu bapak Kusja bilang kepadaku, “Selamat Anda Resmi Menjadi Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman”. Seperti petir menyerbu menyambarku, aku masih mematung beku, Mataku berkaca-kaca. Aku merasa ada cairan aneh meleleh dipipiku, cairan asin yang begitu terasa mengharukan, aku menangis namun tak bersuara. Subhanaalllah, Engkau maha penolong, Ya Allah. Badanku yang layu menjadi kuat lagi dan mata yang kurang tidur itu mendadak menjadi bersinar-sinar. Tiba-tiba sel otot-otot di bibirku terasa ada yang berkontraksi, seperti berkelindan dan terasa ada kebahagiaan yang keluar, bibir ini pun tersenyum, air mata berkaca. Pipi basah berlinang-linang.

Alhamdulilah ternyata bapak Rizki Februansyah telah menghubungi kepada bapak Kusja secara langsung, aku tidak tahu apa yang telah beliau lakukan. Namun dari hasil surat yang aku terima di situ ada pernyataan bahwa sisa pembayaraan yang belum lunas adalah sebanyak Rp.1000.000 dan boleh di bayar di semester depanya. Ya Allah inikah pertolongan-Mu itu? Subhanallah

Aku pun memberi kabar kepada mas Syaeful beserta mas Yomi dan mas Arif. Mereka sangat bersyukur, akhirnya perjuanganku benar-benar terwujud. Selanjutnya aku pun segera memberi kabar kepada keluarga di rumah. Aku menceritakan semua perjuanganku saat ingin mencari uang untuk bayar kuliah supaya bisa resmi menjadi mahasiswa di Universitas Jenderal Soedirman Sastra Inggris Angkatan 2010.

Aku terharu ketika mendengar suara Kakek, Nenek dan bapakku dari telepon, suara nenek terdengar seperti ada isak yang tertahan. Aku tahu pasti neneku disana menangis tidak tega kepadaku karena kesusahan yang aku alami. Karena pada saat yang bersamaan sebenarnya di kampungku sedang berlangsung musim panen. Di rumahpun sebenarnya jika di usahakan akan ada uang kalau diminta. Namun sekali lagi aku berkeinginan tidak menyusahkan mereka lagi, sehingga aku berkeinginan kuat untuk belajar mandiri sampai sekarang, walaupun orang tua juga tetap tidak lepas tangan, kalau aku butuh uang mereka akan mengirimkannya untuk aku.

Kawan, jika mimpi kita tersandra oleh keadaan maka kitalah yang harus menjadi pahlawan untuk memperjuangkannya sampai benar-benar mimpi itu terwujud menjadi nyata. “Manis selalu akan terasa setelah mengecap yang pahit” itulah essensi perjuangan sebenarnya. Dan ingat selalu bahwa perjuangan berdarah-darah menjadi nominal yang pantas untuk menebus impian kita. Dan Jangan lupa yang paling penting dari semua itu adalah kita mau berbagi.
 
Bisa berkuliah merupakan sejarah baru dalam silsilah keluargaku, keluarga buruh tani di sebuah kampung / pedukuhan kecil bernama Sigedeg, Tanjungsari Kec. Wanasari Kab. Brebes. Jawa Tengah. Aku bersyukur karena Allah mengizinkan hambanya untuk bisa mencicipi manisnya “madu ilmu” di sebuah Universitas Negeri. Catatan besar yang pernah aku torehkan dalam hidupku adalah aku sebelumnya tak pernah berani memikirkan hendak masuk ke Universitas manapun, karena aku tidak berani bermimpi, mimpiku kala itu telah terpenggal, terpasung keadaan, namun seperti ajian “rawa rontek” , meski terpenggal namun masih mau untuk tetap menghidupkan kembali mimpi-mimpi . Jadilah pahlawan untuk mimpi-mimpi yang tersandra oleh keadaan. Jangan pernah menyerah.

Sekarang aku mahasiswa yang mencoba ingin terus belajar dari berbagai hal, menyelesaikan yang sudah aku mulai serta mengorek sisi tak terlihat dari hal-hal yang menantang. Terus menegakan angan. Aku terus meniti langkah menjaringan impian yang berserakan di langit harapan. Menyatukannya, mewujudkannya menjadi nyata satu persatu.


<photo id="3" />
(Semua ada saatnya, berjuang sekuat tenaga selanjutnya adalah menunggu.)

Kawan, jangan pernah menyerah memperjugkan impian kita. Yakinlah, akan ada cahaya cerah masa depan menanti di ujung sana. Perjalanan menapaki harapan dibawah titah Tuhan akan selalu menjadi perjuangan yang mendebarkan. Selamanya jangan menyerah untuk berjuang mewujudkan impian. Karena Allahlah yang akan selalu menolong hamba-Nya yang yakin.

Raih Impian “Innallaha Ma’ana”

(Minta doanya untuk dimudahkan dalam mewujudkan impian terbesar yaitu mendirikan Yayasan sosial UNGGUM MANDIRI FOUNDATION, langkah yang sedang ditempuh adalah denga berusaha untuk menjadi penulis mega best seller dunia dan pengusaha miliarder dunia yang bisa bermanfaat untuk menolong orang banyak.)


( Tulisan ini telah di ikut lombakan dalam lomba menulis dengan tema " Kisah Nyata Inspiratif yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Zakat Pusat, dan berhasil meraih juara favorit  diseleksi dari 308 karya terbaik yang terseleksi )


<photo id="1" />
(Aku siap berjuang melanjutkan langkah mewujudkan mimpi-mimpi itu)

Silaturahmi dengan penulis :

Like Fan Page : Sang Pembelajar : ( http://facebook.com/andiyantosangpembelajar)
FollowTwitter @andiyantosmile
Pin BB 5514EF42

Visit my blog : http://andiyantosangpembelajar.blogspot.com

Baca juga tulisan di bawah ini :